PENYEBARAN ISLAM DI DESA SOWAN LOR
Desa ini
berbatasan dengan desa Bugel dan Wanusobo di bagian barat,
desa Dongos di bagian utara, desa Ngeling di bagian timur yg sudah
merupakan cakupan wilayah kecamatan Pecangaan, serta berbatasan dengan
desa Sowan Kidul di bagian selatan. Terletak 10Km jauhnya dari
IbuKota Kabupaten Jepara.
Seperti kebanyakan
Desa lainnya di Jepara, Sowan Lor merupakan sentra industri meuble berorientasi
eksport. Pendidikan: Terdapaat SMP Negeri 1 Kedung yang berdiri sejak tahun
1982 dan termasuk salah satu sekolah yang disegani dalam kegatan kepramukaan di
level kabupaten.
Desa Sowan Lor berada
di Kecamatan Kedung Kabupaten Jepara. Menurut KBBI kata Sowan berasal
dari Bahasa Jawa Verba (kata kerja) yang artinya menghadap (kepada orang yang
dianggap harus dihormati); berkunjung/ mengunjungi. Sedangkan, kata Lor berasal
dari Bahasa Jawa yang artinya Arah Utara. Jadi, Desa Sowan Lor memiliki arti
Desa yang menjadi tempat berkunjung yang berada di daerah utara..
Asal
mula mengapa dinamakan Desa Sowan, menurut cerita Bapak Hariyanto selaku
Petinggi di Desa tersebut adalah pada zaman dahulu yang memberikan nama Desa
Sowan yaitu Sultan Hadirin, saat itu Sultan Hadirin di
kejar-kejar oleh Aryo Penangsang dari Kudus ke Jepara, dan
beliau istirahat di suatu desa (cikal bakal Desa Sowan) dan saat beliau
istirahat, ada sebuah perkumpulan atau pasoaan di wilayah desa tersebut,
akhirnya beliau memberikan nama atau julukan yaitu Desa Sowan, sedangkan kata
Lor yang dalam Bahasa Indonesia berarti Utara, diambil karena wilayah desa yang
terlalu luas sehingga dibagi menjadi dua, yaitu Sowan Lor dan Sowan Kidul.
Petinggi
pertama Desa Sowan Lor adalah Bapak Giman yang merupakan putra
dari Mbah Lukman Hakim (salah satu alim ulama’ yang
dianggap wali di desa Sowan Lor).
Berdasarkan
hasil wawancara dengan Bapak Hariyanto (04/01) Petinggi Desa
Sowan Lor, ulang tahun desa tidak memakai kalender Masehi melainkan kalender
Hijriyah, untuk tanggal ulang tahunnya tidak tetap, tetapi menggunakan pasaran
Jawa yaitu hari Kamis Wage malam Jumat Kliwon pada bulan Dhulqoqdah
atau apid (bulan Jawa). Menurut tradisi yang berlaku hingga saat ini, ulang
tahun tersebut dirayakan dengan mengadakan syukuran yang biasa disebut Kabumi (Sedekah
Bumi) yang rutin diselenggarakan setiap tahunnya.
Punden Desa
Punden
adalah makam seorang alim ulama yang dianggap sebagai wali. Menurut Petinggi
Desa Sowan Lor, ada 5 punden yang tersebar di Desa Sowan Lor, yaitu:
1. Makam Mbah Mboro
Makam ini berlokasi di
Derah Mboro RT12 RW 04


2.
Makam Mbah Sedandang
Makam ini berlokasi si depan Pasar Sowan yang terletak di
perbatasan antara Desa Sowan Lor dan Sowan kidul.

Ki
Galiyo atau sering disebut Mbah Sedandang adalah abdi setia Raden Panji Margono
bersama dengan Ki Mursodo. Ia ikut berperang melawan kompeni saat Perang Lasem.
Dia wafat sebagai Pahlawan Lasem dan dimakamkan di desa Gedongmulyo, tepatnya
di sebelah utara jalan pantura Rembang-Lasem, sebelah timur Sungai Kiringan.
Dia dimakamkan di area tambak garam di dekat dandang yang dulunya dipakai
olehnya bersama Raden Panji Margono dan Ki Galiyo dalam penyamarannya setelah
menyerang tangsi kompeni di wilayah Jepara. Karena itulah, ia sering disebut
Mbah Sedandang.
3.
Makam Mbah Sholeh/
Solo
Makam ini
berlokasi di belakang Masjid Jami Baitul
Rohman.

4. Makam
Mbah Mursodo
Makam ini berlikasi di sebelah
utara Masjid Mursyidatul Islamiyyah

Ki Mursodo (Mursada)
merupakan abdi setia Raden Panji Margono. Ia bersama Ki Galiyo (Mbah Sedandang)
ikut berperang melawan VOC saat Perang Lasem dan selalu mengawal Raden Panji
Margono bahkan yang merawat dia saat dia tertembak meriam kompeni. Ia dan Ki
Galiyo membawa tubuh Raden Panji Margono yang telah berlumuran darah saat di
medan pertempuran Karangpace ke Sambong, Dorokandang. Anak bungsu Raden Panji
Margono, Panji Witono, dilarikan bersama sang ibu ke Narukan, Dorokandang.
Kelak setelah Panji Witono dewasa, akhirnya diambil menantu oleh Ki Mursodo.
5. Makam
Mbah Lukman Hakim
Makam ini berlokasi di belakang
Masjid Mursyidatul Islamiyyah

Dari catatan sejarah,
ajaran Islam masuk ke desa Sowan Lor sekitar abad XI Masehi. Pada umumnya,
sebelum Islam masuk ke desa Sowan Lor, Masyarakat mempunyai keyakinan tentang
adanya sebuah sistem kasta dalam kehidupan masyarakat karena mereka bepegang
teguh kepada keyakinan agama Hindu yang mempunyai sistem golongan atau kelas,
sehingga kehidupan masyarakat bertingkat-tingkat dan terbagi menjadi beberapa
blok. Setelah ajaran Islam masuk dan tersebar ditengah-tengah masyarakat,
susunan masyarakat berdsarkan kasta mulai terkikis perlahan-lahan dan
dimulailah kehidupan masyarakat baru tanpa penindasan atas hak asasi manusia
yang dilatar belakangi oleh perbedaan tersebut.
Sejak abad XV M,
masyarakat sudah banyak memeluk agama Islam. Proses penyebaran agama Islam di
Sowan Lor disebarkan oleh para wali dan ulama dengan berbagai cara. Salah
satunya yang terkenal adalah dengan menggunakan media budaya setempat yang
digabung dengan ajaran-ajaran Islam seperti yang dilakukan oleh: Mbah Mboro,
Mbah Sedandang, Mbah Sholeh, Mbah Mursodo, Mbah Lukman Hakim.
mohon maaf untuk pembaca semuanya, kisah hanya sebatas belum bisa menceritakan dengan detail
oleh : Eva
Tiara Khullah Mahaya
Alamat : Ds. Sowan Lor, Kedung Jepara