Rabu, 04 Desember 2019

sejarah islam sowan lor


PENYEBARAN ISLAM DI DESA SOWAN LOR
Desa ini berbatasan dengan desa Bugel dan Wanusobo di bagian barat, desa Dongos di bagian utara, desa Ngeling di bagian timur yg sudah merupakan cakupan wilayah kecamatan Pecangaan, serta berbatasan dengan desa Sowan Kidul di bagian selatan. Terletak 10Km jauhnya dari IbuKota Kabupaten Jepara.
Seperti kebanyakan Desa lainnya di Jepara, Sowan Lor merupakan sentra industri meuble berorientasi eksport. Pendidikan: Terdapaat SMP Negeri 1 Kedung yang berdiri sejak tahun 1982 dan termasuk salah satu sekolah yang disegani dalam kegatan kepramukaan di level kabupaten.
Desa Sowan Lor berada di Kecamatan Kedung Kabupaten Jepara. Menurut KBBI kata Sowan berasal dari Bahasa Jawa Verba (kata kerja) yang artinya menghadap (kepada orang yang dianggap harus dihormati); berkunjung/ mengunjungi. Sedangkan, kata Lor berasal dari Bahasa Jawa yang artinya Arah Utara. Jadi, Desa Sowan Lor memiliki arti Desa yang menjadi tempat berkunjung yang berada di daerah utara..
            Asal mula mengapa dinamakan Desa Sowan, menurut cerita Bapak Hariyanto selaku Petinggi di Desa tersebut adalah pada zaman dahulu yang memberikan nama Desa Sowan yaitu Sultan Hadirin, saat itu Sultan Hadirin di kejar-kejar oleh Aryo Penangsang dari Kudus ke Jepara, dan beliau istirahat di suatu desa (cikal bakal Desa Sowan) dan saat beliau istirahat, ada sebuah perkumpulan atau pasoaan di wilayah desa tersebut, akhirnya beliau memberikan nama atau julukan yaitu Desa Sowan, sedangkan kata Lor yang dalam Bahasa Indonesia berarti Utara, diambil karena wilayah desa yang terlalu luas sehingga dibagi menjadi dua, yaitu Sowan Lor dan Sowan Kidul.
            Petinggi pertama Desa Sowan Lor adalah Bapak Giman yang merupakan putra dari Mbah  Lukman Hakim (salah satu alim ulama’ yang dianggap wali di desa Sowan Lor).
            Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Hariyanto (04/01) Petinggi Desa Sowan Lor, ulang tahun desa tidak memakai kalender Masehi melainkan kalender Hijriyah, untuk tanggal ulang tahunnya tidak tetap, tetapi menggunakan pasaran Jawa yaitu hari Kamis Wage malam Jumat Kliwon pada bulan Dhulqoqdah atau apid (bulan Jawa). Menurut tradisi yang berlaku hingga saat ini, ulang tahun tersebut dirayakan dengan mengadakan syukuran yang biasa disebut Kabumi (Sedekah Bumi) yang rutin diselenggarakan setiap tahunnya.

Punden Desa
Punden adalah makam seorang alim ulama yang dianggap sebagai wali. Menurut Petinggi Desa Sowan Lor, ada 5 punden yang tersebar di Desa Sowan Lor, yaitu:
1.       Makam Mbah Mboro
Makam ini berlokasi di Derah Mboro RT12 RW 04
2.       Makam Mbah Sedandang
Makam ini berlokasi si depan Pasar Sowan yang terletak di perbatasan antara Desa Sowan Lor dan Sowan kidul.
Ki Galiyo atau sering disebut Mbah Sedandang adalah abdi setia Raden Panji Margono bersama dengan Ki Mursodo. Ia ikut berperang melawan kompeni saat Perang Lasem. Dia wafat sebagai Pahlawan Lasem dan dimakamkan di desa Gedongmulyo, tepatnya di sebelah utara jalan pantura Rembang-Lasem, sebelah timur Sungai Kiringan. Dia dimakamkan di area tambak garam di dekat dandang yang dulunya dipakai olehnya bersama Raden Panji Margono dan Ki Galiyo dalam penyamarannya setelah menyerang tangsi kompeni di wilayah Jepara. Karena itulah, ia sering disebut Mbah Sedandang.
3.       Makam Mbah Sholeh/ Solo
Makam ini berlokasi di  belakang Masjid Jami Baitul Rohman.

4.       Makam Mbah Mursodo
Makam ini berlikasi di sebelah utara Masjid Mursyidatul Islamiyyah
           
Ki Mursodo (Mursada) merupakan abdi setia Raden Panji Margono. Ia bersama Ki Galiyo (Mbah Sedandang) ikut berperang melawan VOC saat Perang Lasem dan selalu mengawal Raden Panji Margono bahkan yang merawat dia saat dia tertembak meriam kompeni. Ia dan Ki Galiyo membawa tubuh Raden Panji Margono yang telah berlumuran darah saat di medan pertempuran Karangpace ke Sambong, Dorokandang. Anak bungsu Raden Panji Margono, Panji Witono, dilarikan bersama sang ibu ke Narukan, Dorokandang. Kelak setelah Panji Witono dewasa, akhirnya diambil menantu oleh Ki Mursodo.

5.       Makam Mbah Lukman Hakim
Makam ini berlokasi di belakang Masjid Mursyidatul Islamiyyah

Dari catatan sejarah, ajaran Islam masuk ke desa Sowan Lor sekitar abad XI Masehi. Pada umumnya, sebelum Islam masuk ke desa Sowan Lor, Masyarakat mempunyai keyakinan tentang adanya sebuah sistem kasta dalam kehidupan masyarakat karena mereka bepegang teguh kepada keyakinan agama Hindu yang mempunyai sistem golongan atau kelas, sehingga kehidupan masyarakat bertingkat-tingkat dan terbagi menjadi beberapa blok. Setelah ajaran Islam masuk dan tersebar ditengah-tengah masyarakat, susunan masyarakat berdsarkan kasta mulai terkikis perlahan-lahan dan dimulailah kehidupan masyarakat baru tanpa penindasan atas hak asasi manusia yang dilatar belakangi oleh perbedaan tersebut.
Sejak abad XV M, masyarakat sudah banyak memeluk agama Islam. Proses penyebaran agama Islam di Sowan Lor disebarkan oleh para wali dan ulama dengan berbagai cara. Salah satunya yang terkenal adalah dengan menggunakan media budaya setempat yang digabung dengan ajaran-ajaran Islam seperti yang dilakukan oleh: Mbah Mboro, Mbah Sedandang, Mbah Sholeh, Mbah Mursodo, Mbah Lukman Hakim. 



mohon maaf untuk pembaca semuanya, kisah  hanya sebatas belum bisa menceritakan dengan detail  



oleh      : Eva Tiara Khullah Mahaya
Alamat : Ds. Sowan Lor, Kedung Jepara